SURABAYA, — Tiga cagar budaya di Jatim didaftarkan di Unesco Asia Pasifik sebagai cagar budaya internasional. Ketiga cagar budaya itu adalah RS Darmo di Jalan Raya Darmo, Katedral (Gereja Santa Perawan Maria) di Jalan Kepanjen, dan Hotel Majapahit di Jalan Tunjungan.

“Ketiga cagar budaya yang didaftarkan ini diajukan karena bentuknya yang masih asli dan memiliki dokumen yang lengkap,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jatim Djoni Irianto, Rabu (24/2/2010). Sesuai rencana, ketiganya akan dikompetisikan dalam 2010 Asia-Pasific Heritage Awards for Cultural Heritage Conservation di Bangkok, Thailand, pada April mendatang.

Ia menuturkan, tiga ikon itu sudah melalui proses penjaringan oleh internal Disparta Jatim. Seleksi ini juga melibatkan akademisi, sejarawan, dan budayawan. “Dalam seleksi itu, kami menerima ratusan cagar budaya dan mendapatkan tiga cagar budaya yang bentuknya masih asli dan memiliki dokumen yang masih sangat lengkap,” ujarnya.

Dokumen pengajuan tiga cagar budaya yang keseluruhan berada di Surabaya ini sudah dikirimkan ke Unesco perwakilan Jakarta, Selasa (23/2/2010). Dari Jakarta, dokumen-dokumen itu akan dikirimkan dan diikutsertakan dalam acara tersebut. Ketiga cagar budaya ini nanti akan “bertarung” dengan cagar budaya se-Asia Pasifik.

Untuk itu, dia meminta kepada semua pihak agar bersabar menunggu hingga mendapatkan kabar dari Unesco karena tanggal penentuan anugerah itu sendiri belum diketahui. “Kalau saya mendapatkan kabar dari Unesco, berarti kita mendapatkan anugerah itu,” tambahnya.

Dengan dikirimkannya tiga ikon yang berada di Surabaya ke ajang internasional ini, Pemprov Jatim pun mengeluarkan imbauan agar masyarakat menjaga cagar budaya dan tidak merusakannya.

Dia yakin, acara tersebut juga memicu semangat agar masyarakat berlomba menjadikan cagar budaya lain menjadi lebih baik. Hal ini menjadi imbauan karena di Jatim terdapat 306 cagar budaya yang tersebar di berbagai wilayah. Adapun sebanyak 160 cagar budaya sudah masuk dalam peraturan daerah Kota Surabaya dan dilindungi.

Cagar budaya itu adalah sekolah, gereja, bekas perkantoran, dan masjid. Jumlah cagar budaya ini tergolong banyak, sementara cagar budaya yang belum dilindungi oleh pemerintah itu adalah cagar budaya yang rentan terhadap perusakan atau perubahan bentuk. Padahal, cagar budaya ini memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi.

Sumber:

http://kompas.com/

http://arkeologi.web.id/