Film poster for The Year of Living Dangerously...

Image via Wikipedia

Dalam setiap pidato hari kemerdekaan 17 Agustus di lapangan Merdeka, Bapak Besar Republik Indonesia, Ir Soekarno, selalu memberi sebutan populer untuk menandai setiap tahun yang sedang dihadapi masyarakat Indonesia. Khusus tahun 1964-1965, Presiden menyebut tahun 1964-1965 ini sebagai tahun Vivere Pericoloso (TAVIP). Vivero Pericoloso merupakan idiom yang dikutip dari bahasa Italia. Artinya, hidup penuh bahaya.

Ungkapan tersebut merupakan sedikit dari kegeniusan Bung Karno dalam menciptakan istilah-istilah bersahaja, yang membuat rakyat selalu terpesona, selaksa mantra-mantra pengubah kenyataan lewat lontaran-lontaran. Suatu lingkaran retorika hipnotis massa. Sederhananya, karisma orasi itulah yang pada akhirnya menciptakan suatu masyarakat negeri yang setia memegang teguh prinsip kenegaraan. Dialah salah satu putra terbaik bangsa.

Pada tahun yang disebut dengan TAVIP tersebut, pemilik nama aseli Kusno Sosrodiharjo itu melihat sebagian besar ibu kota dunia sedang memainkan drama konfrontasi dan saling propaganda. Bung Karno pun begitu. Beliau memanasi egonya dengan nyala sikap diktatoris terang-terangan Eropa abad 1930-an. Malaysia hendak diganyang. Pelindung Malaysia yakni Inggris juga ditantang. Amerika Serikat ditolak. Seluruh dunia Barat dan India juga diajak bersitegang. Orang kulit putih dari kekuatan yang baru muncul—New Emerging Forces (Nefos), dan kekuatan lama yang mapan—Old Established Forces (Oldefos) disebut sebagai Neo-kolonial imperalis (Nekolim).

Peci hitamnya dimiringkan dalam sikap menantang: campuran mencengangkan antara aura pengancam dan playboy. Orang-orang kadang menyebutnya Bapak, tetapi yang lebih pantas baginya adalah Bung, kakak laki-laki yang pemberani, yang melaksanakan setiap tindakan berani yang telah mereka idam-idamkan, dan menyerukan setiap makian yang terbayangkan setiap makian yang terbayangkan pada kemapanan dunia dan pada tuan-tuan kolonial tersembunyi yang mungkin mencoba untuk kembali. (hal 23).

Sementara, Presiden yang memiliki banyak sekali julukan ini (Pemimpin Besar Para Buruh, Komandan Utama Revolusi Mental, dan sebagainya) tak dapat disangkal memiliki keyakinan yang sang besar kepada negerinya. Sangat optimistik. Secara misterius, uang pinjaman yang besar digunakan untuk membeli persenjataan dan mendirikan bangunan baru. Presiden juga telah mengeluarkan ketetapan: Jakarta harus segera menjadi ibu kota dunia. Maka hadirlah: lapangan Merdeka; monumen-monumen berdiri; Kota Lama hingga Hotel Indonesia di Jakarta Baru berjejer sejumlah bank dan kantor baru yang berlapis kaca dan sebuah toko serba-ada yang besar dengan aksen barat. Dengan ini dunia memang telah diyakinkan. Artinya, ketika Indonesia menunjukkan bahwa Indonesia mampu berdiri di atas kaki sendiri, seluruh mata dunia pun mulai memandang dan memberi perhatian.

Terbukti, 55 negara telah menaruh perwakilan di Indonesia. Misi dari Amerika Serikat dan Uni Soviet tampil dengan mewah di negara Indonesia. Bung Karno membaca fenomena ini: oleh karena semakin kuat beliau menghina mereka (negara asing), semakin banyak yang mereka lakukan untuk menopang mimpi-mimpinya, maka Soekarno tetap angkuh pada keberadaan negara-negara luar.

Soekarno dipuja-puja seluruh rakyat. Hampir semua orang mengasihinya, tak terkecuali golongan yang selalu berbeda paham. Soekarno adalah ratu adil yang menyatukan semua yang berlawanan di dalam dirinya. Menyatukan tiga ribu pulau. Soekarno bukan sekadar seorang Muslim atau sosialis, bukan juga Hindu atau Kristen, melainkan kedua-duanya. Orang yang sanggup mewujudkan dualitas.

Akan tetapi mendekati masa akhir kepemimpinannnya, jika diibaratkan dalam lakon pewayangan, Arjuna—Soekarno—boleh dikatakan telah gagal memperhatikan nasihat-nasihat Khrisna. Sebab, segalanya dikaburkan oleh nafsu; sebagaimana api oleh asap, sebagaimana cermin oleh debu. Dan dengan itulah matanya telah terbutakan oleh hal-hal besar seperti revolusi tanpa henti.

Momen-momen di kala bertemu dengan petani Marhaen, ketika itu Soekarno bersepeda di desa Cigareleng di tahun 1922 pun tak sengaja terlupakan. Amnesia ini dikentarai karena upaya memfokuskan diri pada revolusi kehidupan bangsa. Revolusi yang diproyeksikan bakal dilaksanakan sampai mati. Dan, Bung Karno alpa mengunjungi kegemarannya masa lalu yakni menghampiri Pasar Baru, menengok rakyat yang selalu bertumpu padanya. Sama-sama demi memajukan bangsa, tapi Beliau lebih memilih mengunjungi resepsi-resepsi bersama tamu kenegaraan di hotel mewah: Hotel Indonesia. Demi melanjutkan revolusi pembangunan meraih tempat utama di dunia, Bung Karno lupa bau rakyat yang paling penting; bau kretek beraroma cengkeh—rokok yang diisap orang-orang miskin. Bau tersebut bercampur bau salah makanan favorit rakyat: sate yang dipanggang di atas anglo arang.

Kebijakan politik yang tidak berlandaskan pada kepentingan masyarakat ini berimplikasi membentuk pandangan-pandangan kritis berbagai golongan. Tuntutan rakyat, pemberontakan hingga mencoba mengkudeta pemerintahan pun pernah terjadi. G30S merupakan upaya puncak dari usaha pemberontakan tersebut. Dan uniknya, keduanya, antara pemberontak Wayang Golongan Kiri (PKI) dan Wayang Golongan Kanan Kantor Pusat Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) bergerak atas nama tokoh yang dicintai mereka: Soekarno. Di sini, dalam peristiwa berdarah inilah, sejarah Indonesia 1965 terlihat kabur, samar, dan sukar dinalar. Tetapi pengaburan sejarah tersebut dapat dimaknai dengan baik jika mengamati novel fiksi historis The Year of Living Dangerously: Cinta di Tengah Gejolak Revolusi 1965 karya Christopher Koch.

Christopher Koch menulis The Year of Living Dangerously ini atas dasar pengalaman kakaknya, Philip Koch. Saat negara Indonesia sedang berkecamuk dahsyat, Philip Koch memang sedang berada di Indonesia sebagai reporter. Setelah melakukan serangkaian observasi, novel diselesaikan pada 1978, kemudian diadopsi dalam film yang berjudul sama The Year of Living Dangerously pada 1982.

Karya dan film tersebut telah meraih berbagai penghargaan. Ironisnya, kendati mendapat sambutan hangat di seluruh dunia, namun karya dan film yang bercerita tentang keadaan Indonesia ini justru dilarang beredar di negeri yang digunakan dalam setting. Pelarangan ini dilakukan sejak rezim orde baru. Alasannya sepele, kisah di dalamnya tidak sesuai dengan sejarah asli. Timbul kecurigaan, barangkali kekuasaan orde baru mendefinisikan “fiksi” sebagai hal yang bisa dipertanggungjawabkan, dikorelasikan, atau setidaknya ada titik singgung dengan realitas sesungguhnya. Sayangnya, titik singgung tersebut tidak akan bertemu jika realitas yang dikonstruksi sebagai kebenaran sesungguhnya, maksudnya adalah realitas versi kekuasaan orde baru. Dua hal yang konyol dan tidak masuk akal hanya untuk mempertahankan kepentingan pribadi. Beruntung pada 1999, larangan tersebut dicabut.

“Mencintai Indonesia karena aku turut memiliki kenangannya.”

Begitulah kata salah satu tokoh dalam novel yang menggunakan cover beda dalam terbitan terbarunya ini; Hamilton. Apabila dikorelasikan pada pelarangan yang terjadi di era orde baru, maka dengan tidak memperbolehkan menghadirkan novel 496 halaman ini di Indonesia bukankah sama halnya membunuh kecintaan masyarakat terhadap negerinya sendiri. Oleh sebab itu, terlepas dari benar/tidaknya, baik/buruk muatan yang ada, novel ini merupakan sajian berharga dari dunia untuk Indonesia.

Tentang sejarah kita sendiri: seharusnya pengetahuan kita lebih menyeluruh ketimbang orang-orang di negara lain.

 

Detail Buku

Judul: THE YEAR OF LIVING DANGEROUSLY: Cinta di Tengah Gejolak Revolusi 1965
Penulis: Christopher J Koch

Penerjemah: Yuliani Liputo

Penerbit: PT Serambi Ilmu Semesta

Tebal: 496 halaman

Cetakan: Cetakan II, Oktober 2009

Peresensi: Risang Anom Pujayanto

Resensi dimuat di Surabaya Post, Sabtu, 9 Januari 2010