Tag Archive: islam


Alexander The Great

Detail of Alexander Mosaic, showing Battle of ...

Detail of Alexander Mosaic, showing Battle of Issus, from the House of the Faun, Pompeii (Photo credit: Wikipedia)

Alexander Agung (bahasa Yunani: Μέγας Ἀλέξανδρος (“Megas Alexandros”), bahasa Inggris: Alexander the Great) adalah seorang penakluk asal Makedonia. Ia diakui sebagai salah seorang pemimpin militer paling jenius sepanjang zaman. Ia juga menjadi inspirasi bagi penakluk-penakluk seperti Hannibal, Pompey, Caesar dari Romawi, dan Napoleon. Dalam masa pemerintahannya yang singkat, Alexander mampu menjadikan Makedonia sebagai salah satu kekaisaran terbesar di dunia.

Riwayat

Alexander dilahirkan pada tanggal 20 Juni 356 SM di Pella, ibu kota Makedonia, sebagai anak dari Raja Makedonia, Fillipus II, dan istrinya Olympias, seorang Putri dari Epirus. Ketika kecil, ia menyaksikan bagaimana ayahnya memperkuat pasukan Makedonia dan memenangkan berbagai pertempuran di wilayah Balkan. Ketika berumur 13 tahun, Raja Filipus mempekerjakan filsuf Yunani terkenal, Aristoteles, untuk menjadi guru pribadi bagi Alexander. Dalam tiga tahun, Aristoteles mengajarkan berbagai hal serta mendorong Alexander untuk mencintai ilmu pengetahuan, kedokteran, dan filosofi. Pada tahun 340 SM, Filipus mengumpulkan sepasukan besar tentara Makedonia dan menyerang Byzantium. Selama penyerangan itu, ia memberikan kekuasaan sementara kepada Alexander yang ketika itu berumur 16 tahun, untuk memimpin Macedonia.

Continue reading

Perang Salib

Dilihat dari perkembangan sejarahnya, Perang Salib merupakan bagian dari interaksi Timur dan Barat di abad pertengahan yang pada mulanya digambarkan dalam bentuk perang kuno antara bangsa Troya dan Persia, sementara perluasan imperialisme Eropa menjadi penutup babad sejarah tersebut. Perang Salib secara khusus menggambarkan reaksi orang Kristen di Eropa terhadap Muslim di Asia yang telah menguasai wilayah Kristen sejak 632 M meliputi Syria, Asia Kecil, Spanyol dan Sisilia.

Perang Salib juga merupakan kumpulan gelombang dari pertikaian agama bersenjata yang dimulai oleh kaum Kristiani pada periode 1095–1291; biasanya direstui oleh Paus atas nama Agama Kristen, dengan tujuan untuk menguasai kembali Yerusalem dan “Tanah Suci” dari kekuasaan kaum Muslim, awalnya diluncurkan sebagai jawaban atas permintaan dari Kekaisaran Bizantium yang beragama Kristen Ortodoks Timur untuk melawan ekspansi dari Dinasti Seljuk yang beragama Islam ke Anatolia.

Istilah ini juga digunakan untuk ekspedisi-ekspedisi kecil yang terjadi selama abad ke 16 di wilayah di luar Benua Eropa, biasanya terhadap kaum pagan dan kaum non-Kristiani untuk alasan campuran antara agama, ekonomi dan politik. Skema penomoran tradisional atas Perang Salib memasukkan 9 ekspedisi besar ke Tanah Suci selama Abad ke 11 sampai dengan Abad ke 13. “Perang Salib” lainnya yang tidak bernomor berlanjut hingga Abad ke 16 dan berakhir ketika iklim politik dan agama di Eropa berubah secara signifikan selama masa Renaissance.

Perang Salib pada hakikatnya bukan perang agama, melainkan perang merebut kekuasaan daerah. Hal ini dibuktikan bahwa tentara Salib dan tentara Muslim saling bertukar ilmu pengetahuan.

Perang Salib berpengaruh sangat luas terhadap aspek-aspek politik, ekonomi dan sosial, yang mana beberapa bahkan masih berpengaruh sampai masa kini. Karena konfilk internal antara kerajaan-kerajaan Kristen dan kekuatan-kekuatan politik, beberapa ekspedisi Perang Salib (seperti Perang Salib Keempat) bergeser dari tujuan semulanya dan berakhir dengan dijarahnya kota-kota Kristen, termasuk ibukota Byzantium, Konstantinopel – kota yang paling maju dan kaya di benua Eropa saat itu. Perang Salib Keenam adalah perang salib pertama yang bertolak tanpa restu resmi dari gereja Katolik, dan menjadi contoh preseden yang memperbolehkan penguasa lain untuk secara individu menyerukan perang salib dalam ekspedisi berikutnya ke Tanah Suci. Konflik internal antara kerajaan-kerajaan Muslim dan kekuatan-kekuatan politik pun mengakibatkan persekutuan antara satu faksi melawan faksi lainnya seperti persekutuan antara kekuatan Tentara Salib dengan Kesultanan Rum yang Muslim dalam Perang Salib Kelima.

Continue reading

The Nusantara Archipelago during the height of...

Peta Kerajaan Majapahit di masa kejayaannya

Tim Wacana Nusantara

1 April 2009

HJ. De Graaf dan Th. Pigeaud dalam bukunya Kerajaan Islam Pertama di Jawa, Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI (terjemahan Grafiti Pers), memberikan beberapa keterangan yang menyoalkan atas permasalah hancurnya Majapahit. Tulisannya mengupas beberapa peristiwa yang mungkin luput dari pandangan kita. Apa pun tulisan mereka hanya sebuah kecenderungan dari pola pikir yang terbentuk atas data-data yang mereka temukan dan mereka nilai benar.
Menurut cerita rakyat Jawa, tahun kejadiannya adalah 1487 M. Diambil dari kalimat terkenal Sirna Ilang Kertaning Bhumi = Musnah Hilang Keagungan Negeri = 1400 J = 1487 M, yang dipercaya sebagai tahun keruntuhan Majapahit. Tapi kedua ilmuwan Belanda tersebut mendapatkan bukti-bukti yang berbeda.
Kerajaan Majapahit ternyata tidak runtuh di tahun 1487 M. Meksi begitu, tahun itu ternyata bukan tahun yang tidak penting. Pada tahun itulah raja pertama Demak mulai memerintah. Di catatan-catatan Jawa dia disebut dangan nama Raden Patah (dari kata Arab: Al Fatah, “kemenangan gemilang”).

Continue reading

Judul: Bilik-bilik Pesantren, Sebuah Potret Perjalanan
Penulis: Nurcholish Madjid
Penerbit: Dian Rakyat dan Paramadina
Terbit: 2010
Tebal: xxx + 162 halaman
Harga: Rp. 45.000

Pesantren sebagai salah satu pilar pendidikan modern Islam, tengah menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ia harus dapat menjawab berbagai persoalan bangsa di tengah kemajuan di berbagai bidang yang tidak mungkin dihindari.

Itu sebabnya pesantaren, yang selama ini memiliki stigma sebagai lembaga pendidikan yang konservatif dan cenderung anti-modern, harus segera melakukan perbaikan. Hal tersebut bertujuan agar langkah pesantren dapat sederap dengan kemajuan, dengan tetap menjadi benteng nilai relijius.
Buku yang ditulis oleh Nurcholish Madjid ini ingin mengungkapkan masalah-masalah pokok dunia pesantren di Indonesia. Masalah-masalah itulah yang menurut Nurcholish menjadikan pesantren sulit untuk menemukan solusi masalah-masalah bangsa.

Salah satu masalah pokok yang diungkapkan Nurcholish adalah lemahnya visi dan tujuan pendirian pesanteran. Menurutnya, banyak pesantren yang gagal merumuskan tujuan dan visinya secara jelas. Ini ditambah dengan kegagalan dalam menuangkan visi tersebut pada tahapan rencana kerja ataupun program.

Akibatnya, sebuah pesantren hanya berkembang sesuai dengan kepribadian pendirinya, dengan dibantu oleh kiai maupuin pembantu-pembantulainnya. Tidak mengherankan jika semangat pesantren adalah semangat pendirinya.

Bagi Nurcholish, keterbatasan fisik dan mental pendiri pensantren itu dapat membuat pesantren menjadi kurang responsif terhadap perkembangan-perkembangan yang terjadi dalam masyarakat.
Apabila hal ini tidak selesaikan, maka, pesantren akan dianggap tidak mampu lagi menghadapai tantangan-tantangan yang dibawa oleh kemajuan jaman dan modernisasi. Kekurangan inilah yang membuat terjadinya kesenjangan antara pesantren dengan “dunia luar”.

Oleh sebab itu perubahan harus dilakukan, dalam arti mengejar ketinggalan yang telah. Namun demikian, Nurcholish mengingatkan sejumlah hal mengenai hal ini, misalnya perubahan tersebut harus dimulai dari “orang dalam” pesantren itu sendiri.

Kedua, perubahan sering tidak dapat dilakukan secara radikal. Akibtanya, perubahan dilakukan secara perlahan. Ini dapat dimulai dari perubahan kurikulum di pesantren, yang tidak hanya mengemban fungsi relijius tetapi juga keilmuan.

Inilah yang diistilahkan oleh Nurcholish sebagai amanat ganda pesantren, yakni amanat agama serta amanat keilmuan. Keduanya harus dilakukan secara serentak dan proporsional sehingga tercapai keseimbangan yang diharapkan.

Untuk itulah buku ini, seperti yang ditulis oleh Prof Malik Fajar dalam buku ini, menawarkan sebuah sintesa antara perguruan tinggi dan pesantren (hal. 121). Sintesa keduanya diharapkan dapat menjawab kebutuhan dua jenis pendidikan tersebut, yakni perguruan tinggi yang rasional namun miskin kedalaman spiritual, dan pesantren yang kuat dengan tradisi keagamaan, namun tertatih-tatih di bidang keilmuan.

Dengan membaca buku ini, pembaca dapat diajak untuk kembali memikirkan dan membenahi pesantren. Dengan upaya ini pesantren tidak lagi dianggap sebagi pilar pendidikan yang “nomor dua”, tetapi justru menjadi ujung tombak pemberdayaan masyarakat.
Dengan begitu pesantren dapat diharapkan untuk memberikan solusi atas masalah-masalah yang seakan tidak berhenti menghujani bangsa Indonesia.***

Sumber: http://ulas-buku.blogspot.com/

Arsip sejarah, tulisan asli Bung Karno asli pada 1926 di Soeloeh Indonesia Muda : Nationalism, Islam dan Marxism setelah ditranslasikan Ruth McVey.

NATIONALISM, ISLAM AND MARXISM

SOEKARNO

Like the son of Bima,1 who was born in an age of struggle, Young Indonesia2 now sees the light of day, at a time when the peoples of Asia are deeply dissatisfied with their lot—dissatisfied with their economic lot, dissatisfied with their political lot and dissatisfied with their lot in every other respect!

The age of being satisfied with conditions as they are has passed.  A new age, a youthful age has arrived, like the dawn of a dear morning. The conservative theory that “the little man must be satisfied with his lot, content to sit in the background of historical events and offer himself and his possessions in the service of those who stand out in front,” is no longer accepted by the people of Asia. Their faith that the men who rule them today are true “guardians” who will one day relinquish their” guardianship” is also wearing thin. Less and less do they believe that those who rule them today are really “elder brothers” who will voluntarily let them go free when they are “mature” and have “come of age.”

This disbelief is based on the knowledge, is based on the conviction that the primary cause of colonization is not the desire for fame nor the wish to see the world; nor is it the longing for freedom, nor population pressures faced by the colonizers in their own countries, as Gustav Klenun would have it3 The prime cause of colonization is the search for gain.

“Colonization is primarily the result of shortages of goods in the home country,” according to Dietrich Schafer.4 It was these shortages which caused the Europeans to seek their fortunes abroad, and explains why they colonized those countries which would yield them a profitable livelihood. And this is the reason, of course, why it is very difficult to believe in the emancipation of these colonies by their colonizers. A man does not readily give up his source of livelihood, since in doing so he signs his own death warrant.

Continue reading

%d bloggers like this: