Tag Archive: resensi


Pram Bicara

Judul : Pram Melawan!

Penyusun : P Hasudungan Sirait dkk

Penerbit : Nalar

Terbit : I, 2011

Halaman : xxxviii + 502 Halaman

Harga : Rp. 135.000

Pramoedya Ananta Toer memang kontroversial hingga akhir hayatnya. Tidak banyak literatur yang mengungkapkan pemikian sastrawan yang dicap sebagai “kiri” itu secara komprehensif.

Hal itu membuat sosok Pramoedya sulit ditangkap secara utuh. Kecurigaan serta stigma yang melekat padanya, semakin membuat tokoh yang diwacanakan sebagai penerima hadiah Nobel untuk bidang sastra itu, terlupakan.

Padahal menjelang akhir hayatnya, sejumah karyanya mengalami cetak ulang. Di sejumlah forum, karyanya tidak pernah sepi dibicarakan dan diapresiasi. Bahkan tidak sedikit remaja mulai tergila-gila dengan karya Pramodya.

Oleh sebab itu, terbitnya Pram Melawan!, merupakan sebuah titik pijakan baru yang dapat mengantarkan para peminat karya Pram–demikian panggilan pendek Pramoedya–, pemerhati sejarah, maupun peneliti sastra menuju pemahaman semesta Pramoedya secara lebih lengkap.

Buku ini merupakan kumpulan sejumlah wawancara yang dilakukan oleh penyusunnya dengan Pram. Topiknya beragam, dari soal politik, sastra, kebudayaan, keluarga, sosial hingga pengalaman pribadinya ketika dibuang ke pulau Buru.

Dari sinilah pembaca dapat melihat banyak sisi lain dari Pram. Ia seakan ingin orang mengetahui duduk persoalan masa lalunya secara jernih terkait dengan kekuasaan. Ia juga ingin meluruskan siapa yang sebenanya layak disebut sebagai orang yang merampas kebebasan orang lain.

Sementara itu, untuk pihak-pihak yang berseberangan dengannya di masa lalu, Pram seakan ingin mereka melihat alasan-alasan mengapa lelaki pendukung Soekarno itu melakukan sesuatu yang dianggap keliru.

Salah satu pertanyaan yang sering mengusik tentang Pram adalah, apakah ia seorang anggota Partai Komunis Indonesia ketika itu? Ia menjawab, anggota Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) tidak otomatis menjadi anggota PKI.

Bagi Pram, Lekra adalah kiri. Namun, kiri tidak berarti komunis. Kiri adalah orang yang tertindas dan tersingkirkan. Golongan seperti inilah yang harus dibela. Merekalah yang harus dimanusiakan. Jadi, keliru jika golongan ini yang harus diperlakukan tidak adil.

Itu juga yang menjadi roh dalam realisme sosial di dalam sastra. Mereka yang tertindas harus dibebaskan, diberi kesadaran. Jadi, realisme sosial akan tetap relevan hingga kapan pun selama rakyat yang tertindas masih ada.

Hal menarik lain yang diungkapkan oleh Pram adalah permusuhan Lekra dengan Manikebu. Menurut pengakuannya, Pram memang melawan orang-orang golongan Manikebu. Alasannya, ia hanya berusaha mencegah demokrasi liberal ala Barat dan melawan orang-orang yang anti terhadap Soekarno.

Menariknya, dalam wawancara yang dilakukan, Pram selalu berbicara terbuka, tanpa tedeng aling-aling. Seluruh gelora emosi, kekesalan, serta kekecewaannya, tertumpah tanpa beban dalam buku ini.

Buku ini bagaikan sebuah medium bagi Pram untuk menunjukkan realitas dirinya. Sebuah realitas yang berkorespondensi dengan berbagai gejala yang ada di sekitarnya. Realitas ini bagi Pram bukan hanya sesuatu yang hadir dari bawah alam sadar, namun juga sesuatu yang terinternalisasi dari lingkungan.

Kita tungu saja apakah akan ada yang menjawab isi buku ini. Jika pun ada, semoga itu diletakkan dalam keranga sejarah kebudayaan dan kesenian, bukan politik yang tidak berujung.***

sumber: http://ulas-buku.blogspot.com/

Advertisements

Judul : Hikajat Seri Rama

Penerbit : Balai Poestaka

Tahun : 1938

Tebal : 256 halaman

Peresensi: Umi Kulsum

http://www.kompas.com/

RAMA dan Sita (Sinta) merupakan sejoli yang berasal dari epik Ramayana. Dalam proses perjalanan dari negeri asalnya, kedua sosok tersebut telah berubah dari versi aslinya menjadi bentuk cerita yang sarat dengan muatan lokal di mana cerita itu berkembang. Sebenarnya kisah Ramayana bukanlah sekadar cerita cinta seperti Romeo dan Juliet, tetapi sebuah drama kehidupan yang penuh idealisme, nilai moral, penggambaran kondisi sosial, budaya, dan politik.Inilah yang terjadi dengan Hikajat Seri Rama yang diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1938. Tradisi lisan yang mengusung kisah Ramayana ke Nusantara pada abad ke-13 itu biasanya dibawakan oleh seorang penutur cerita atau pendongeng dalam sebuah pertunjukan.Sejak abad ke-16, saling terjemah naskah genre “yang indah” atau kesusastraan antara Jawa dan Melayu terjadi. Itu pula yang terjadi dengan epik Ramayana. Kisah tersebut pernah diterbitkan PP Roorda van Eysinga tahun 1843, dan pernah dimuat di majalah Journal of the Straits Branch of Royal Asiatic Society, April 1917.

Continue reading

Novel “The Jilbab Code” berkisah tentang petualangan religius tentang pemecahan code-code sandi jilbab. Fana dan Marina dipertemukan dalam proyek pemecahan sandi wasiat, yang dipenuhi simbol-simbol Jilbab. Tak diduga, ternyata mereka berhasil memecahkan sandi-sandi awal, selanjutnya petunjuk sandi tersebut mengharuskan mereka mengumpulkan 6 coin JIlbab, yang coin-coinnya tersebut di penjuru wilayah Indonesia. Ini adalah awal petualangan seru, dan menegangkan yang mewarnai lika-liku perjuangan mereka dalam memecahkan “Sandi Jilbab”.
Novel ini diceritakan dengan gaya bercerita yang seru dan menggelitik dengan model alur cerita yang tidak biasa. Menginspirasi Anda yang ingin mendalami makna Jilbab dalam perspektif yang berbeda tapi tetap menghibur, lucu, dan mencerahkan.
Selain petualangan, novel ini juga menyajikan kisah cinta dua anak manusia. Seperti saat Fana ditinggalkan Marina, di Bandara untuk traveling keliling dunia. Ia menitipkan secarik kertas yang berisi curahan hatinya.
Terbanglah sejauh kamu inginkan, seperti burung di angkasa. Sebab kamu adalah burung yang paling indah. Yang pernah hinggap didalam sarang ranting hatiku. Suatu saat sarang yang kesepian ini, amat sangat merindukan kehadiran burung itu lagi.

sumber:

http://id.shvoong.com/books/novel-novella/2036978-jilbab-code/

%d bloggers like this: