Tag Archive: sejarah indonesia


Coat of arms of Yogyakarta, Java, Indonesia

Image via Wikipedia

Daerah Istimewa Yogyakarta atau biasa disingkat dengan DIY adalah salah satu daerah otonom setingkat provinsi yang ada di Indonesia. Propinsi ini beribukota di Yogyakarta.

Dari nama daerah ini yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta sekaligus statusnya sebagai Daerah Istimewa. Status sebagai Daerah Istimewa berkenaan dengan runutan sejarah berdirinya propinsi ini, baik sebelum maupun sesudah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Menurut Babad Gianti, Yogyakarta atau Ngayogyakarta (bahasa Jawa) adalah nama yang diberikan Paku Buwono II (raja Mataram tahun 1719-1727) sebagai pengganti nama pesanggrahan Gartitawati. Yogyakarta berarti Yogya yang kerta, Yogya yang makmur, sedangkan Ngayogyakarta Hadiningrat berarti Yogya yang makmur dan yang paling utama. Sumber lain mengatakan, nama Yogyakarta diambil dari nama (ibu) kota Sanskrit Ayodhya dalam epos Ramayana. Dalam penggunaannya sehari-hari, Yogyakarta lazim diucapkan Jogja(karta) atau Ngayogyakarta (bahasa Jawa).
Continue reading

Sukarno and Foreign Minister Agus Salim in Dut...

A.    FAKTOR PENDORONG LAHIRNYA NASIONALISME INDONESIA

Kata nasionalisme berasal dari kata Nation yang berati bangsa. Dalam bahasa Latin kata Nation berati kelahiran kembali, suku kemudian bangsa. Bangsa adalah sekelompok manusia yang mendiami wilayah tertentu dan memiliki hasrat untuk bersatu karena adanya persamaan nasib, cita-cita dan kepentingan bersama. Menurut Han Kohn adalah suatu paham yang menempatkan kesetiaan tertinggi individu harus diserakan kepada negara dan bangsa. Bangkitnya nasionalisme Indonesia didorong oleh faktor intern dan ekstern.

Continue reading

Dan saya, saudara-saudara, telah memberikan, menyumbangkan atau menawarkan diri saya sendiri, dengan segala apa yang ada pada saya ini, kepada service of freedom, dan saya sadar sampai sekarang: the service of freedom is a deathless service, yang tidak mengenal akhir, yang tidak mengenal maut. Itu adalah tulisan isi hati. Badan manusia bisa hancur, badan manusia bisa dimasukkan di dalam kerangkeng, badan manusia bisa dimasukkan di dalam penjara, badan manusia bisa ditembak mati, badan manusia bisa dibuang ke tanah pengasingan yang jauh daripada tempat kelahiran, tetapi ia punya service of freedom tidak bisa ditembak mati, tidak bisa di kerangkeng, tidak bisa dibuang di tempat pengasingan, tidak bisa ditembak mati.

Dan saya beritahu kepada Saudara-saudara, menurut perasaaanku sendiri, saya, Saudara-saudara, telah lebih daripada tiga puluh lima tahun, hampir empat puluh tahun dedicate myself to this service of freedom. Yang saya menghendaki agar supaya seluruh, seluruh, seluruh rakyat Indonesia masing-masing juga dedicate jiwa raganya kepada service of freedom ini, oleh karena memegang service of freedom ini is a deathless service. Tetapi akhirnya segala sesuatau adalah ditangannya Tuhan. Apakah Tuhan memberi saya dedicate my self, my all to this service of freedom, itu adalah tuhan punya urusan.

Karena itu maka saya terus, terus, terus selalu memohon kepada Allah S.W.T., agar saya diberi kesempatan untuk ikut menjalankan aku punya service of freedom ini. Tuhan yang menentukan. De mens wikt, God beslist; manusia bisa berkehendak macam-macam, Tuhan yang menentukan. Demikianpun saya selalu bersandarkan kepada keputusan Tuhan itu. Cuma saya juga dihadapan Tuhan berkata: Ya Allah, ya Rabbi, berilah saya kesempatan, kekuatan, taufik, hidayat untuk dedicate my self to this great cause of freedom and to this great service

Continue reading

Rekonstruksi Peristiwa Penyobekan Bendera di Hotel Yamato

Berita akan mendaratnya Tentara Sekutu tanggal 25 Oktober 1945 di Surabaya dikawatkan pertama oleh Menteri Penerangan Amir Syarifuddin dari Jakarta. Dalam berita tersebut menteri menjelaskan tugas Tentara Sekutu di Indonesia, yaitu mengangkut orang Jepang yang sudah kalah perang, dan para orang asing yang ditawan pada zaman Jepang. Menteri berpesan agar pemerintah daerah di Surabaya menerima baik dan membantu tugas Tentara Sekutu tersebut.

Sikap politik pemerintah pusat tersebut sulit diterima rakyat Surabaya pada umumnya. Rakyat Surabaya mencurigai kedatangan Inggris sebagai usaha membantu mengembalikan kolonialisme Belanda di Indonesia. Kasus Kolonel P.J.G. Huijer, perwira Tentara Sekutu berkebangsaan Belanda, menjadi salah satu alasannya kecurigaan itu. Kolonel P.J.G. Huijer yang datang di Surabaya pertama kali pada tanggal 23 September sebagai utusan Laksamana Pertama Patterson, Pimpinan Angkatan Laut Sekutu di Asia Tenggara, ternyata membawa misi rahasia pula dari pimpinan Tertinggi Angkatan Laut Kerajaan Belanda. Huijer yang bersikap dan bertindak terang-terangan menentang revolusi Indonesia akhirnya ditangkap dan ditawan di Kalisosok oleh aparat keamanan Indonesia.

Hari menjelang datangnya tentara Inggris di Surabaya, Drg. Moesopo yang sementara itu telah mengangkat diri menjadi Menteri Pertahanan RI, berseru pada rakyat Surabaya, agar bersiap siaga menghadapi kedatangan pasukan Inggris. Dengan mengendarai mobil terbuka dan pedang terhunus di tangan, ia berteriak-teriak di sepanjang jalan, menyadarkan rakyat atas bahaya yang sedang mengancam. Dalam pidato radionya pada malam harinya, secara khusus Moestopo memperingatkan secara keras pada tentara Inggris dan NICA (Netherlands Indies Civil Administration, Pemerintah Penjajahan Belanda atas Indonesia di pengungsian ketika Jepang menduduki Indonesia, dan merencanakan kembali menjajah Indonesia lagi setelah bubar perang) ~ diucapkan “Nika” ~ agar mereka jangan mendarat di Surabaya. “Inggris! Nika! Jangan mendarat! Kalian orang terpelajar! Tahu aturan! Jangan mendarat! Jangan mendarat!” pidatonya di radio begitu terus.
Continue reading

Denpasar (ANTARA News) – Pemerintah Indonesia terus berupaya melakukan hubungan diplomasi dengan pemerintah Belanda agar benda-benda bersejarah yang dikoleksi di museum negara itu dikembalikan ke Tanah Air.

“Kita berharap museum di Belanda yang mengkoleksi benda sejarah Indonesia bisa dikembalikan,” kata Dirjen Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Hari Untoro Drajat, di Museum Gunarsa Klungkung, Bali, Sabtu.

Di sela-sela kunjungan ke sejumlah museum dan peninggalan purbakala di Bali, ia mengatakan, banyak benda-benda bernilai sejarah menjadi koleksi museum di Belanda yang berasal dari seluruh Nusantara.

Benda itu kebanyakan diambil ketika Belanda menjajah di Indonesia.

“Mereka mendapatkan koleksi itu ketika Pemerintah Kolonial Belanda menjajah di Indonesia yang lamanya mencapai 3,5 abad,” katanya.

Waktu itu, kata dia, tidak sedikit benda-benda karya budaya masyarakat diboyong ke negeri kincir angin tersebut. Baik dengan cara merampas pada masa penjajahan atau ada juga membeli dari seorang kolektor.

“Tindakan perampasan benda tersebut ketika kolonial Belanda berkuasa di Indonesia. Jangankan karya seni diboyong, bahkan seluruh kekayaan bumi ini rampas oleh penjajah,” kata Hari Untoro yang didampingi Kepala Seksi Kerja Sama Direktorat Museum Dewi Murwaningrum.

Dikatakan, sejumlah benda bernilai sejarah yang selama ini telah dikoleksi di Museum Belanda sudah ada yang dikembalikan ke Indonesia.

“Berkat pendekatan pemerintah kepada museum di Nederland Belanda, beberapa arca dan lontar bernilai sejarah sudah dikembalikan. Namun demikian  tidak semuanya barang tersebut untuk dikembalikan ke sini,” ucapnya.

Menurut Hari Untoro, dengan masih tetap dikoleksi di museum tersebut, secara tidak langsung dapat mempromosikan hasil karya anak bangsa Indonesia adiluhung yang sudah ada sejak berabad-abad itu.

“Nantinya kalau warga Belanda atau peneliti di museum tersebut ingin tahu asal benda sejarah itu pasti mereka akan datang ke Indonesia,” katanya.

Dengan demikian, kata Hari Untoro, akan menjadi daya tarik wisatawan datang ke Indonesia untuk melihat secara langsung asal mula kebudayaan Nusantara yang menjadi koleksi museum di Belanda.

“Banyak peneliti yang fokus meneliti keberadaan koleksi museum di Belanda datang ke Indonesia untuk mendalami hasil penelitiannya,” kata dia.

Oleh karena itu, dengan pemerintah telah mencanangkan tahun kunjungan museum Indonesia atau Visit Museum Indonesia 2010, diharapkan semua warga dapat berkunjung ke tempat penyimpanan benda bernilai sejarah tersebut.

“Kami berharap warga Indonesia maupun wisatawan asing akan tertarik mengunjungi museum. Untuk itu pemerintah telah melakukan berbagai langkah mendukung program kunjungan tersebut dengan melakukan pembenahan diberbagai infrastruktur di museum tersebut,” kata Hari Untoro menambahkan.

Year Era
100 – 1500 Ancient Kingdoms and the Coming of Islam
1500 – 1670 Great Kings and Trade Empires
1670 – 1800 Court Intrigues and the Dutch
1800 – 1830 Chaos and Resistance
1830 – 1910 Dutch Imperialisme
1910 – 1940 New Nationalism
1940 – 1945 Perang Dunia II
1945 – 1950 War of Independence
1950 – 1965 The Sukarno years
1965 – 1998 The Suharto years

Continue reading

%d bloggers like this: