Tag Archive: Sejarah Umum


Eropa Abad Pertengahan

Abad Pertengahan adalah periode sejarah di Eropa sejak bersatunya kembali daerah bekas kekuasaan Kekaisaran Romawi Barat di bawah prakarsa raja Charlemagne pada abad 5 hingga munculnya monarkhi-monarkhi nasional, dimulainya penjelajahan samudra, kebangkitan humanisme, serta Reformasi Protestan dengan dimulainya renaisans pada tahun 1517 Continue reading

The Flying Dutchman

Banyak versi dari cerita ini. Menurut beberapa, cerita ini berasal dari Belanda, sementara itu yang lain meng-claim bahwa itu berasal dari sandiwara Inggris The Flying Dutchman (1826) oleh Edward Fitzball dan novel “The Phantom Ship” (1837) oleh Frederick Marryat, kemudian di adaptasi ke cerita Belanda “Het Vliegend Schip” (The Flying Ship) oleh pastor Belanda A.H.C. Römer. Versi lainnya termasuk opera oleh Richard Wagner (1841) dan “The Flying Dutchman on Tappan Sea” oleh Washington Irving (1855).

Berdasarkan dari beberapa sumber, Kapten Belanda pada abad ke 17 Bernard Fokke adalah contoh dari kapten kapal hantu tersebut. Fokke mendapatkan kemasyhuran atas perjalan dari Belanda ke Jawa dengan kecepatan yang luar biasa dan dicurigai mempunyai ikatan dengan Iblis untuk meningkatkan kecepatannya. Berdasarkan dari beberapa sumber, kapten tersebut dipanggil dengan Falkenburg didalam cerita versi Belanda. Dia dipanggil dengan “Van der Decken” (artinya off the deck|Diatas Geladak) dalam versi Marryat’s dan “Ramhout van Dam” dalam versi Irving’s. Sumber tidak setuju bahwa “Flying Dutchman” adalah nama dari kapal atau nama panggilan untuk sang kapten.
Menurut banyak versi, sang kapten berjanji bahwa dia tidak akan mundur pada saat badai, tapi akan melanjutkan usahanya untuk mencari Cape of Good Hope walaupun sampai hari kiamat. Menurut beberapa versi, kejahatan yang mengerikan telah terjadi, atau awak kapalnya telah tertular oleh wabah penyakit pes dan tidak diijinkan untuk berlabuh di seluruh pelabuhan. Sejak itu, kapal dan awaknya dihukum untuk selalu berlayar, tidak pernah kedarat. Menurut beberapa versi, ini terjadi pada tahun 1641, yang lain menebak tahun 1680 atau 1729.

Banyak catatan persamaan dari Flying Dutchman dengan kisah umat Kristen The Wandering Jew.
Terneuzen (Belanda) disebut sebagai rumah sang legenda Flying Dutchman, Van der Decken, seorang kapten yang mengutuk Tuhan dan telah dihukum untuk mengarungi lautan selamanya, telah diceritakan dalam novel karya Frederick Marryat – The Phantom Ship dan Richard Wagner opera.

Beberapa saksi penampakan The Flying Dutchman :

1823 Kapten Oweb dari kapal HMS Leven; dua kali melihat kapal kosong yang terombang ambing di tengah samudera, salah satunya mungkin the Flying Dutchman.

1835 Sebuah kapal Inggris sempat melihat The Flying Dutchman yang melaju kencang ke arahnya tapi setelah dekat menghilang begitu saja.

1879 Beberapa awak kapal SS Petrogia sempat melihat kapal hantu tersebut.

1881 3 awak kapal HMS Baccante yang di dalamnya terdapat King George V melihatnya. Keesokan harinya seornag awak yang sempat melihat tiba2 mati secara mendadak.

1939 Terlihat di Mulkenzenberg, membuat orang2 yang melihatnya bingung karena tiba2 saja kapal tua itu menghilang begitu saja.

1941 Terdapat laporan dari Pantai Glenclaim tentang sebuah kapal tua yang menabrak karang. Setelah diselidiki tak ada sedikitpun bangkai kapal di sekitarnya.

1942 Terlihat oleh kapal MHS Jubille di dekat Cape Town, Afrika selatan.

Menurut cerita dongeng, The Flying Dutchman adalah kapal hantu yang tidak akan pernah bisa berlabuh, tetapi harus mengarungi “tujuh lautan” selamanya. Flying Dutchman selalu terlihat dari jauh, kadang-kadang disinari dengan cahaya hantu.

Sumber:

http://sangatmenarik.wordpress.com/

Tahukah Anda, Sex Gonta-ganti Pasangan Ciri-ciri Manusia Purba? Tidak perlu heran dan penasaran kenapa akhir-akhir ini banyak orang berganti-ganti pasangan termasuk artis? Tidak perlu heran jika ada manusia yang punya banyak pasangan seksual, sebab perilaku ini memang diwariskan oleh nenek moyang kita sendiri. Kurang lebih 1,5 juta tahun yang lalu, Homo Erectus masih gemar bergonta-ganti pasangan. Dikutip dari Ninemsn, Rabu (9/6/2010), para ahli prasejarah menyimpulkan hal ini setelah mengamati dimorfisme (perbedaan) seksual pada fosil tengkorak manusia purba yang ditemukan di Kenya. Fosil tersebut diperkirakan berasal dari periode 1,55 juta tahun yang lalu. Fosil tengkorak homo erectus betina pada periode tersebut relatif mungil, bila dibandingkan dengan kebanyakan fosil tengkorak pejantan dewasa. Variasi ekstrem pada ukuran tubuh merupakan ciri spesies yang menganut poligami dalam sistem reproduksi. Sedangkan spesies monogami umumnya tidak memiliki dimorfisme seksual yang menonjol terkait ukuran tubuh. Secara anatomi, keseragaman ukuran tubuh memberikan kesempatan yang sama pada setiap individu dalam mengakses pasangan. Para ahli meyakini, pada masa itu homo erectus jantan yang berukuran lebih besar akan berkompetisi untuk mendapatkan kenikmatan seksual dari beberapa betina. Satu pejantan yang dominan bisa mengawini betina sebanyak-banyaknya. Para pejantan yang memiliki ukuran tubuh lebih kecil nasibnya kurang beruntung. Karena kalah bersaing, kelompok non-dominan ini hanya bisa menunggu atau mencari-cari kesempatan untuk mendapatkan pasangan seksual. Spesies manusia purba lainnya yang juga memiliki kecenderungan poligami adalah Australopithecus, hidup pada periode sebelumnya yakni 2-4 juta tahun yang lalu. Beberapa penelitian menunjukkan, dimorfisme seksual tampak paling jelas pada spesies ini. Seiring berjalannya proses evolusi, dimorfisme itu makin memudar. Homo erectus diyakini sebagai manusia purba terakhir menganut poligami, karena spesies ini telah memiliki dimorfisme setingkat manusia moderen di akhir periodenya. Monogami sudah dikenal sebelum homo erectus Jauh sebelum era homo erectus, monogami juga sudah dikenal manusia purba di daratan yang kini dikenal sebagai Ethiopia. Spesies yang dimaksud adalah Ardipithecus ramidus atau disebut Ardi, yang hidup sekitar 4,4 juta tahun yang lalu. Ketika spesies lain di eranya masih harus bertarung untuk mencari pasangan, Ardi telah mengenal sistem yang lebih manusiawi. Dikutip dari Nationalgeographic, Rabu (9/6/2010), Ardi betina memilih pejantan yang bisa membawakan lebih banyak makanan. Pejantan berukuran besar tidak menarik, justru karena cenderung berganti-ganti pasangan. Lagipula, hubungan seksual pada Ardi hanya berlangsung singkat sehingga tidak menarik bagi betina. Karena daya tarik pejantan tergantung banyaknya makanan yang bisa dibawa, maka pada era tersebut Ardi mulai meninggalkan hidup bergelantungan di pohon. Ardi merupakan manusia purba pertama yang mulai memakai kedua kaki untuk berjalan. Dan itu dilakukan demi mendapatkan pasangan tetap. Jutaan tahun kemudian ketika manusia modern sudah mengenal teknologi, proses evolusi ternyata masih menyisakan perilaku purba. Akibatnya, hobi berganti-ganti pasangan seksual bahkan hebatnya lagi juga bisa direkam. Nah apakah gaya hidup sekarang mencerminkan masyarakat purba? biarlah fakta atau gosip yang seiring sejalan menjawabnya.

sumber : http://faktagosip.blogspot.com/2010/06/tahukah-anda-sex-ganti-ganti-pasangan.html

http://history1978.wordpress.com/

Sistem Tanam Paksa

Pada tahun 1830 pada saat pemerintah penjajah hampir bangkrut setelah terlibat perang Jawa terbesar (Perang Diponegoro 1825-1830), dan Perang Paderi di Sumatera Barat (1821-1837),
ongkos imperialisme Belanda secara semena-mena diletakkan di atas pundak Jawa-Madura melalui Cultuurstelsel atau Sistem Tanam Paksa antara 1830-1870. Gubernur Jendral Van den Bosch mendapat izin khusus melaksanakan sistem Tanam Paksa (Cultuur Stelsel) dengan tujuan utama mengisi kas pemerintahan jajahan yang kosong, atau menutup defisit anggaran pemerintah penjajahan yang besar. Sistem tanam paksa ini jauh lebih keras dan kejam dibanding sistem monopoli VOC karena ada sasaran pemasukan penerimaan negara yang sangat dibutuhkan pemerintah. Petani yang pada jaman VOC wajib menjual komoditi tertentu pada VOC, kini harus menanam tanaman tertentu dan sekaligus menjualnya pada harga yang ditetapkan kepada pemerintah. Maka tidak ada perkembangan yang bebas dari sistem pasar.

Sistem tanam paksa diperkenalkan secara perlahan sejak tahun 1830 sampai tahun 1835. Menjelang tahun 1840 sistem ini telah sepenuhnya berjalan di Jawa.

Cultuurstelsel (atau secara kurang tepat diterjemahkan sebagai Tanam Paksa) adalah peraturan yang dikeluarkan oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch yang mewajibkan setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya (20%) untuk ditanami komoditi ekspor, khususnya kopi, tebu, dan tarum (nila). Hasil tanaman ini akan dijual kepada pemerintah kolonial dengan harga yang sudah dipastikan dan hasil panen diserahkan kepada pemerintah kolonial. Penduduk desa yang tidak memiliki tanah harus bekerja 75 hari dalam setahun (20%) pada kebun-kebun milik pemerintah yang menjadi semacam pajak.

Sistem tanam paksa berangkat dari asumsi bahwa desa-desa di Jawa berutang sewa tanah kepada pemerintah, yang biasanya diperhitungkan senilai 40% dari hasil panen utama desa yang bersangkutan. Van den Bosch ingin setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya untuk ditanam komoditi ekspor ke Eropa (kopi, tebu, dan nila). Penduduk dipaksa untuk menggunakan sebagian tanah garapan (minimal seperlima luas, 20%) dan menyisihkan sebagian hari kerja untuk bekerja bagi pemerintah.

Dengan mengikuti tanam paksa, desa akan mampu melunasi utang pajak tanahnya. Bila pendapatan desa dari penjualan komoditi ekspor itu lebih banyak daripada pajak tanah yang mesti dibayar, desa itu akan menerima kelebihannya. Jika kurang, desa tersebut mesti membayar kekurangan tadi dari sumber-sumber lain.

Pemerintah kolonial memobilisasi lahan pertanian, kerbau, sapi, dan tenaga kerja yang serba gratis. Komoditas kopi, teh, tembakau, tebu, yang permintaannya di pasar dunia sedang membubung, dibudidayakan.

Continue reading

1815-Tambora Mengguncang Dunia

Gunung Tambora

Kebanyakan dari kita lebih mengenal Gunung Krakatau dengan sejarah letusan kolosalnya, padahal jika dibandingkan dengan sejarah Gunung Tambora (2.850 m dpl), energi letusan yang dikeluarkan sebanyak 4 kali lebih besar dari Gunung Krakatau. Kehebatan dampak letusannya kepada Manusia dan lingkungan, Dunia barat bahkan menjulukinya sebagai Pompeii (Pompeii adalah kota modern pada masa kejayaan kekaisaran Romawi, dekat napoli di wilayah Italia. Pompeii hancur dan benar-benar terkubur karena sekian lama dan panjangnya dampak letusan dari gunung berapi Vesuvius yang terjadi pada 79 M. Runtuhnya gunung tersebut sehingga mengubur Pompeii dibawah 60 kaki dengan abu dan batu apung. Letusan yang berlangsung selama 19 jam dan mengeluarkan sekitar 1 kubik mil (4 kubik kilometer) abu dan batu sehingga juga mengakibatkan kerusakan yang berarti kota tetangganya, Herculaneum. Korban jiwa dari bencana ini diperhitungkan antara 10.000-25.000 jiwa. Pada masa tersebut, masyarakat Romawi sudah sangat terbiasa dengan getaran-getaran kecil pada buminya. Pada tulisan sejarah yang ditemukan, menjelaskan bahwa “mereka tidak cukup kuatir dengan situasi ini karena cukup sering terjadi di daerahnya”. Tujuh belas tahun sebelum letusan Venusius terjadi, Pompeii dan kota terdekat lainnya sudah merasakan gempa tektonik yang cukup kuat yang terjadi pada 5 Februari 92 yang dampaknya juga menyebabkan kerusakan yang cukup luas, khususnya di sekitar daerah teluk Naples. Setelah bermula dengan gempa kecil pada 20 Agustus 79, mulai sore hari pada 24 Agustus yang secara kebetulan bertepatan dengan festival Vulcanalia – upacara rakyat terkait dengan Dewa Api Romawi, sebuah bencana yang diakibatkan oleh letusan gunung berapi baru memulai,  dan berdampak menghancurkan wilayah Pompeii serta kota disekitarnya. Catatan sejarah yang ditemukan dalam bentuk dua surat yang ditulis oleh saksi mata Plinius muda, yang menggambarkan secara rinci proses meletusnya gunung dan dampak yang diakibatkan, termasuk juga menceritakan kematian pamannya yang mencoba melakukan evakuasi korban dengan menggunakan kapalnya.) dari Timur dan digolongkan sebagai Gunung Berapi yang mempunyai kekuatan ledakan super (Supervulcano) yang artinya proses letusan gunung berapi ini memuntahkan isi perutnya lebih dari 1.000 kubik kilometer atau 240 mil kubik.

Continue reading

SURABAYA, — Tiga cagar budaya di Jatim didaftarkan di Unesco Asia Pasifik sebagai cagar budaya internasional. Ketiga cagar budaya itu adalah RS Darmo di Jalan Raya Darmo, Katedral (Gereja Santa Perawan Maria) di Jalan Kepanjen, dan Hotel Majapahit di Jalan Tunjungan.

“Ketiga cagar budaya yang didaftarkan ini diajukan karena bentuknya yang masih asli dan memiliki dokumen yang lengkap,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jatim Djoni Irianto, Rabu (24/2/2010). Sesuai rencana, ketiganya akan dikompetisikan dalam 2010 Asia-Pasific Heritage Awards for Cultural Heritage Conservation di Bangkok, Thailand, pada April mendatang.

Ia menuturkan, tiga ikon itu sudah melalui proses penjaringan oleh internal Disparta Jatim. Seleksi ini juga melibatkan akademisi, sejarawan, dan budayawan. “Dalam seleksi itu, kami menerima ratusan cagar budaya dan mendapatkan tiga cagar budaya yang bentuknya masih asli dan memiliki dokumen yang masih sangat lengkap,” ujarnya.

Dokumen pengajuan tiga cagar budaya yang keseluruhan berada di Surabaya ini sudah dikirimkan ke Unesco perwakilan Jakarta, Selasa (23/2/2010). Dari Jakarta, dokumen-dokumen itu akan dikirimkan dan diikutsertakan dalam acara tersebut. Ketiga cagar budaya ini nanti akan “bertarung” dengan cagar budaya se-Asia Pasifik.

Untuk itu, dia meminta kepada semua pihak agar bersabar menunggu hingga mendapatkan kabar dari Unesco karena tanggal penentuan anugerah itu sendiri belum diketahui. “Kalau saya mendapatkan kabar dari Unesco, berarti kita mendapatkan anugerah itu,” tambahnya.

Dengan dikirimkannya tiga ikon yang berada di Surabaya ke ajang internasional ini, Pemprov Jatim pun mengeluarkan imbauan agar masyarakat menjaga cagar budaya dan tidak merusakannya.

Dia yakin, acara tersebut juga memicu semangat agar masyarakat berlomba menjadikan cagar budaya lain menjadi lebih baik. Hal ini menjadi imbauan karena di Jatim terdapat 306 cagar budaya yang tersebar di berbagai wilayah. Adapun sebanyak 160 cagar budaya sudah masuk dalam peraturan daerah Kota Surabaya dan dilindungi.

Cagar budaya itu adalah sekolah, gereja, bekas perkantoran, dan masjid. Jumlah cagar budaya ini tergolong banyak, sementara cagar budaya yang belum dilindungi oleh pemerintah itu adalah cagar budaya yang rentan terhadap perusakan atau perubahan bentuk. Padahal, cagar budaya ini memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi.

Sumber:

http://kompas.com/

http://arkeologi.web.id/

Dekolonisasi Historiografi

Rakyat tanpa Sejarah, Sejarah tanpa Rakyat

Oleh: SYAMSUL ARDIANSYAH***

PAULO Freire pernah menulis, adaptasi adalah tindakan yang paling maksimal bagi mereka yang “kalah”. Beradaptasi, meski dalam banyak kasus harus ditempuh dengan cara keras, hakikatnya hanyalah suatu bentuk yang paling lunak untuk mengeliminasi diri, menghilangkan keberdirian, dan menumpas kemandirian. Mereka yang memilih untuk menempuh cara beradaptasi adalah mereka yang sadar maupun tidak telah menyerahkan diri dan kemandiriannya pada keadaan yang belum tentu sesuai dengan keinginan kemanusiaannya.
Continue reading

%d bloggers like this: